Selasa, 27 Maret 2012

Hasil Uji Kompetensi Awal ( UKA ) Sertifikasi Guru 2012

Bagi teman-teman yang ingin melihat hasil Uji Kompetensi Awal ( UKA ) Sertifikasi Guru Tahun 2012 dapat dilihat dengan cara klik disini

Minggu, 25 Maret 2012

Tips Menghadapi UN 2012

“Ujian Nasional” kata-kata ini menjadi suatu momok yang menakutkan bagi banyak pihak, baik dari pemerintah, guru, orang tua dan tentu saja bagi siswa itu sendiri yang akan menjalani tes Ujian Nasional. Maksud dan tujuan Ujian Nasional adalah untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dibidang kognitif siswa selama belajar dengan standar nasional.
Menjelang Ujian Nasional, berbagai persiapan harus dilakukan oleh para siswa kelas akhir dari berbagai tingkatan mulai tingkat SD/MI ( Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah ), SLTP/MTs ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Madrasah Tsanawiyah ) dan juga SLTA / MA ( Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan Madrasah Aliyah ). Persiapan yang harus dilakukan mulai mental, kesehatan dan kemampuan otak agar dalam pelaksanaan Ujian Nasional nanti bisa berhasil secara maksimal sesuai dengan diharapkan.
Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit memberikan Tips Menghadapi Ujian Nasional. Dengan harapan teman-teman mampu menghadapi ujian nasional dengan hasil terbaik. Berikut sedikit Tips Menghadapi Ujian Nasional
1. Persiapan Awal yang Matang
Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
2. Tetap Tenang dan percaya diri
Yakinkan pada diri kamu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik. Karena percaya diri merupakan poin penting dari salah satu kesiapan dalam ujian nasional. Tanpa adanya kepercayaan diri terkadang otak kita bisa blank hilang konsentrasi. Caranya bisa dengan duduk yang tenang, santai, rileks.
4. Baca, Cermati lalu Pahami baru mengerjakan soal
Tips Menghadapi Ujian Nasional yang ini sangat penting, Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
5. Hati-hari dalam mengisi Lembar Jawaban Komputer (LJK)
Dalam mengisi Lembar Jawab Komputer (LJK) sebaiknya hati-hati, jangan sampai basah, terlipat dan selalu menjaga LJK dari minyak, jika hal ini terjadi yang ditakutkan adalah tidak mesin scanner tidak dapat mendeteksi jawaban anda. Tentunya hal ini sangat fatal.
6. Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
7. Awali dan Akhiri dengan berdoa
Sebelum kita mulai mengerjakan dan sesudah mengerjakan jangan lupa berdoa kepada Tuhan agar diberikan hasil yang baik. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Tuhan senantiasa akan melihat kesungguhan usaha kita. Tuhan pun akan melihat kesungguhan hambaNya untuk melakukan suatu usaha jika hambaNya mengiringi usahanya tersebut dengan berdoa.
Jika Anda berhasil lulus Ujian, Selamat! Jika tidak sesuai apa yang Anda harapkan, Ingat bahwa ini bukanlah akhir dari hidup Anda. Jika ada kesempatan mengulang, tingkatkan usaha dan kemampuan Anda!
Read more: Tips Menghadapi Ujian Nasional | belajarpsikologi.com

Cara Mengembangkan Empati Aanak

Sikap berempati adalah sikap yang ditunjukkan untuk memahami apa yang dirasakan atau, lebih tepat, untuk memahami apa yang Anda akan merasa seperti jika Anda berada dalam situasi itu. Ini adalah perluasan dari konsep diri, tapi jauh lebih kompleks. Hal ini membutuhkan suatu kesadaran bahwa orang lain menganggap diri mereka dengan cara yang baik mirip dengan dan berbeda dari cara yang Anda lakukan, dan bahwa mereka juga memiliki emosi mereka persekutukan dengan pikiran-pikiran dan gambar.
Tidak seperti kecerdasan dan daya tarik fisik, yang sangat tergantung pada genetika, empati adalah keterampilan yang anak-anak belajar. Nilainya adalah multifold. Anak-anak yang empatik cenderung untuk berbuat lebih baik di sekolah, dalam situasi sosial, dan dalam karier mereka dewasa. Anak-anak dan remaja yang memiliki jumlah terbesar keterampilan pada empati dipandang sebagai pemimpin oleh rekan-rekan mereka. Para guru terbaik keterampilan yang orang tua anak-anak.
The precursor empati dapat dilihat pada anak-anak pada hari pertama atau kedua dari kehidupan. Seorang anak yang baru lahir menangis di kamar bayi rumah sakit akan memicu sering menangis pada bayi lainnya di ruangan itu. menangis seperti itu tidak benar layar empati. Bayi baru lahir tampaknya hanya menanggapi suara yang membuatnya tidak nyaman, seperti yang ia akan ke suara keras.
Balita terkadang menunjukkan perilaku yang paling dekat dengan empati yang benar dalam usaha pertama mereka untuk terhubung ketidaknyamanan orang lain dengan mereka sendiri. Ketika melihat 2 tahun menangis ibunya, ia dapat menawarkan dirinya mainan dia telah bermain dengan atau cookie dia sudah menggigit. Dia memberikan sesuatu ibunya bahwa dia tahu telah membuatnya merasa lebih baik ketika dia menangis. Tidak jelas, bagaimanapun, apakah anak memahami apa yang dirasakan ibunya, atau hanya kecewa dengan cara dia bertindak, banyak cara anak anjing akan muncul dan menjilat wajah seseorang yang menangis.
Pada saat seorang anak sekitar 4 tahun, ia mulai emosi rekannya dengan perasaan orang lain. Sementara satu anak mengatakan ia memiliki sakit perut, sekitar 4-year-olds mungkin datang dan menghiburnya. Lainnya, banyak yang bingung dan ngeri orang tua dan guru, akan berjalan di atas anak dan memukulnya di perut.
Namun dalam setiap kasus anak yang sehat adalah menunjukkan empati-Nya bagi orang yang sakit. Anak yang agresif tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan skill dia sudah berkembang. Rasa sakit anak lain membuatnya merasa tidak nyaman. Alih-alih melarikan diri atau menggosok perut sendiri, seperti yang mungkin dilakukan setahun sebelumnya, ia merasa frustrasi dan bulu luar.
Pengajaran Empati Read more: Mengembangkan Sikap Empati Pada Anak | belajarpsikologi.com

Cara Sederhana Belajar Empati

Ketika anda sedang berinteraksi dengan teman anda baik seseorang ataupun kelompok, seringkali anda akan menemukan sebuah keluhan atau permasalahan yang di alami oleh teman anda. Jika itu bersifat umum, itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagaimana jika ternyata justru anda dihadapkan kepada permasalahan yang dihadapi oleh teman anda sampai-sampai ia menceritakan secara keseluruhan tentang keadaan dan permasalahan yang dialaminya, hingga ujung-ujungnya membawa anda untuk memberikan sebuah solusi. Sederhananya, bisa dikatakan dengan curcol alias curhat colongan. Dan mau tidak mau, saya yakin langkah awal yang akan anda lakukan adalah dengan berempati.
Tapi sebelumnya nih ya, menurut bahasa sederhana saya, empati adalah langkah awal untuk berimajinasi seperti dirinya agar dapat merasakan apa yang dirasakan. So, ketika sedih, anda seakan anda benar-benar merasakan bagaimana kesedihannya. Begitupun sebaliknya. Jadi dengan mencoba merasakan sama seperti apa yang dirasakan oleh teman anda, dalam hal ini setidaknya anda akan mendapatkan dua manfaat dari berempati. Yaitu mencoba untuk menjadi seorang pendengar yang baik, dan secara tidak langsung anda akan melewati proses belajar untuk mengatasi masalah.
So, berikut adalah tips atau hal-hal yang harus dilakukan dalam belajar empati :
- Dengar, dan rasakan.
Berawal dari mendengarkan, dan jika anda ingin merasakannya lebih dalam, anda secara tidak langsung akan membayangkan bagaimana dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh lawan bicara anda.
- Pahami dengan melihat keadaan hatinya.
Memahami keadaan hati, akan menjadikan anda seperti dirinya. Meskipun saya yakin bahwa imajinasi anda tidak akan sama seperti keadaan hati lawan bicara anda, namun saya yakin bahwa anda telah berusaha untuk mendapatkan pemahaman tentang apa yang sebenarnya dia rasakan sehingga dia mau berbicara semua ini kepada saya.
- Menilai dan melihat harapan.
Setelah anda mendengar, merasakan dan memahami. Lalu jika anda benar-benar merasakan tentang keadaan sesungguhnya, maka anda akan memiliki sebuah keinginan, atau menurut saya lebih tepatnya sebuah harapan. Yup, teman anda tentunya memiliki sebuah harapan besar dari sebuah keadaan yang sedang dialaminya.
Itulah 3 cara belajar empati ala saya. Setelah ketiga hal tersebut dilakukan, saatnya closing. Menurut saya tidak akan bermanfaat rasanya jika seseorang telah bercerita panjang lebar dan mengharapkan sebuah solusi dari anda kalau anda tidak memberikannya masukan, saran, atau sebuah support kecil buatnya. Dengan mencoba berempati, anda dapat lebih mudah memberikan saran dan motivasi untuk teman anda. Jangan fikirkan cara/saran anda tepat atau tidak baginya, tetapi fikirkan bagaimana anda mencoba untuk membatunya dengan ikhlas
Dengan begitu, anda akan lebih mudah mendapatkan hal-hal baru atau pengalaman besar yang anda dapatkan tanpa harus anda lalui secara nyata. Dan sebagai penutup, dengan belajar berempati anda akan dapat melihat ke bawah, bahwa terkadang anda berada pada keadaan yang lebih baik dari orang lain.

Belajar Empati Sejak Dini

Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah memiliki rasa empati. Rasa empati ini sudah mulai terlihat ketika si anak sudah dilahirkan ke dunia oleh Allah. Ketika anak mulai tersenyum dengan ibunya yang sedang mengendong atau dengan orang yang menyapanya. Pada saat itu, anak sedang berlatih komunikasi dengan orang lain. Empati yang ada dalam aktivitas sosial mulai terbentuk dalam diri anak sejak saat itu.
Setelah beberapa bulan dilahirkan, anak mulai mempelajari perasaan orang lain, terutama perasaan ibunya. Bayi mungil itu akan melihat wajah ibunya dengan lembut sambil tersenyum. Artinya, si bayi mungkin mengkomunikasikan rasa sayang kepada ibunya dalam bentuk aktivitas sederhana, yaitu sungingan senyum. Awal berhubungan dengan orang lain itulah yang akan membentuk empati dalam diri anak.
Semakin bertambah usia anak, maka semakin berkembang pula rasa empati pada diri anak. Jika saja stimulus positif yang diberikan lingkungan , terutama oleh lingkungan keluarga jarang didapatkan anak, maka perkembangan rasa empati ini pun semakin kerdil.
Empati ini akan terus berkembang dalam modifikasi perilaku yang tak terbayangkan. ”Bunda, ada kucing kecil. Tadi aku lihat disana dan aku kasih makan,” kata anak playgroup yang menyapa ketika aku datang ke sekolah. ”Kan kasihan, Bunda,” ucap anak itu kembali ketika anak-anak yang lain mulai mempermainkan kucing tersebut.
Seorang anak pernah kulihat sangat berempati ketika temannya melamun sambil memijit pelipisnya. Anak itu menegur dan dengan bahasa tubuh yang dia perlihatkan. Anak itu memegang pundak temannya sambil melihat wajah si teman dengan sikap orang prihatin. ”Kenapa kamu ? Kamu sakit ya ?”
Ternyata bukan satu kali saja aku melihat anak itu berbuat hal seperti itu. Ketika anak-anak yang lain duduk dengan mengacuhkan Ustad/Bunda yang berdiri di bus kota (pada kunjungan edukatif ke Balai Holtikultura Sum-Sel), seorang anak berdiri. Anak itu tidak mempersilahkan Bunda yang ada di dekatnya untuk duduk, tapi dia berkata, ” Nggak ah, Bun, aku pengen berdiri aja,” katanya. Setelah itu dia menawarkanku rambutan asem yang diambil dari kebun holtikultura (gratis, boleh metik sendiri). ” Nih, Bun, buat Bunda,” disodorkannya 1 buah rambutan yang masih hijau kekuning-kuningan kepadaku. ”Bener nih ngasih Bunda ?” Tanyaku. ” Iya, aku masih banyak di dalam tas, tadi aku ngambil banyak,’ katanya singkat. Di wajah anak itu hanya melihat seulas senyum. Sederhana. 1 buah rambutan asem membuat aku memperhatikan tingkah laku anak tersebut.
Di kelas, dia bukan anak yang banyak ulah. Dia anak yang agak pendiam dibandingkan teman-temannya, tapi dia punya andil ketika jam sholat atau jam makan siang. Saat belajar pun dia sering berteriak, ” Lihat, Bunda sudah diem !” Ketika anak-anak lain mendengar teriakan seperti itu, anak-anak akan segera tertib dan diam.
Belajar empati dari sikap anak di sekolahku menjadikan aku berpikir. Setelah ana dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan yang buruk. Akankah rasa empati itu terus tertanam dalam jiwa dan teraplikasi dalam perilaku mereka ? Aku jadi menganalogikan antara empati dan pisau. Ketika sebuah pisau diasah, maka dia kan semakin tajam, begitu juga dengan rasa empati yang dimiliki manusia. Ketika sebuah pengalaman mengantarkan seseorang untuk berbuat lagi dan lagi, maka empati akan tumbuh dengan suburnya.
Al Qur’an telah mengajarkan bahwa manusia itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka rasa sakit itu pula akan dirasakan oleh anggota tubuh yang lain. Artinya, ketika seorang manusia merasakan sakit, maka manusia yang lain juga akan ikut merasakan hal yang sama. Itulah empati. Perasaan yang lebih dalam dari pada simpati dan tidak didapat secara mudah.
Empati kadang dihalangi oleh rasa ego yang sangat tinggi, maka muncullah rasa gengsi ketika hampir semua orang tidak melakukan perbuatan tersebut meskipun perbuatan itu adalah perbuatan yang berkategori baik.
Ketika anak-anak bersekolah, anak-anak mulai mengerti sifat dan kemauan teman-temannya, memahami perilaku temannya sehingga ini juga membuat rasa empati dalam diri anak lebih terasah. Seberapa terasah rasa empati dari anak, maka : Lihatlah perilaku sehari-harinya. Lihat perilaku ketika mereka bermain, ketika mereka mempunyai makanan, ketika temannya dalam kesulitan atau musibah. Contoh sederhana, lihatlah ketika anak sholat berjama’ah. Lihat apakah mereka rela berbagi sajadah dengan teman yang tidak mempunyai sajadah.
Perhatikan saat anak bermain, apakah anak tipe yang suka mengalah atau dominan sehingga keinginannyalah yang harus dinomorsatukan. Awasi mereka saat mereka tahu tentang suatu materi pelajaran, apakah mereka suka mengajari teman yang tidak tahu ataukah mereka diam sampai ada orang yang bertanya padanya.
Kesediaan membantu sesama teman, orang tua, dan guru apakah murni untuk sekedar membantu atau hanya kesediaan ’semu’ yang diembel-embeli keinginan ingin dipuji, mendapat nilai besar, dan disayang orang tua dan guru saja. Kecintaan kepada makhluk hidup, entah itu tumbuhan atau hewan, patut dijadikan patokan rasa empati anak kepada lingkungan

Revolusi Pembelajaran Dalam Belajar

Oleh : Indra Yusuf
Ketika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggapnya permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya. Sama halnya saat kita mencoba suatu jenis alat musik, tentu pertama kali akan terasa sulit. Namun setelah kita mengetahui cara dan biasa menggunakannya, tentu kita akan merasakan bermain musik itu sangat mengasyikan.
Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar (baca : sekolah). Karena tidak sedikit siswa yang menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian keadaanya, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.
Sebagai seorang guru yang profesional tentu kita berkewajiban untuk terus berupaya memotivasi dan menjaga semangat belajar siswanya. Namun disamping itu ada yang lebih penting, yakni mengenalkan sekaligus mengajarkan cara atau seni belajar kepada siswa. Sehingga nantinya siswa akan merasa enjoy dalam belajar. Karena cara belajar adalah kunci dari kegiatan belajar itu sendiri. Sekolah akan menjadi suatu tempat yang menyenangkan dan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang memenjarakan bagi para siswa.
Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan diberbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia dianugrahi otak yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Ternyata kedua otak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Otak kanan memiliki sifat long term memory atau mampu mengingat dalam jangka waktu yang lebih lama. Kegiatan otak kanan lebih pada pengolahan informasi yang berupa irama, musik, imajinasi, emosi, warna, gambar dan diagram. Sedangkan otak kiri yang tergolong short term memory atau mengingat dalam jangka waktu yang lebih pendek. Otak Kiri berkaitan dengan kemampuan verbal, matematis, analitis, sistematis dan bersifat logis.
Aktifitas yang dapat direspon secara baik oleh otak kiri diantaranya adalah membaca, menulis dan berhitung. Sebagai contoh yang membuktikan bahwa daya ingat otak kanan lebih panjang dari otak kiri adalah saat guru bertemu dengan muridnya. Guru akan lebih dulu mengenal wajahn muridnya dibandingkan dengan namanya. Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang :
(1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka; (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.
Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R survey (meninjau), question (bertanya), read (membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).
Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi 3 yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru dalam kegiatan \\ hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja. Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran jika erupa gambar atau grafik. Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.
Cara mencatat yang baik adalah dengan memggunakan metode Cornell dan Mind Maping. Mencatat dengan metode cornell, yaitu dengan membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kemudian kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting. Metode mind Map adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Mind Map sebenarnya merupakan suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam suatu proses berpikir. Sedangkan Cara mengingat dapat menggunakan metode loci, assosiasi dan chunking. Ketiga metode ini bisa meningkatkan daya ingat karena memaksimalkan kerja otak kanan. Contoh dari metode asosiasi, ambil suku kata yang mudah diingat, misal untuk mengingat negara-negara yang berada di Asia Selatan dengan bantuan kalimat bapa ibhune srimala, yang artinya Bangladesh, Pakistan, India, Bhutan Nepal, Srilangka dan Maladewa. Metode chunking, adalah metode untuk mengingat angka dengan cara mengelompokanny sehingga mudah dihafal.
Sedangkan metode loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat (dihapalkan) dengan tempat atau benda tertentu (spesifik) yang familiar dengan kita. Jadi kita harus memilih tempat yang kita kenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar. Maka kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, maka diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.
Cara berpikir kreatif yakni berpikir dengan sudut pandang yang berbeda, berpikir optimis karena semua dapat kita kerjakan dan meninggalkan gaya berpikir konservatif. Berkat berpikir kreatif inilah karya dan kesuksesan besar diraih, sehingga tidaklah berlebihan jika berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Diharapkan dengan menerapkan revolusi belajar dalam pembelajaran dapat menggali dan melejitkan potensi siswa yang masih tersembunyi. Bagaimanapun setiap siswa memiliki potensi untuk mengantarkannya ke sebuah gerbang kesuksesanya.
Penulis adalah guru SMA Negeri 7 Cirebon dan Pengajar Bimbel Ganesha Operation Cirebon.

Revolusi Cara Belajar

The Learning Revolution (Revolusi Cara Belajar)
Setiap orang adalah guru sekaligus murid dan berikan suasana menyenangkan agar belajar lebih efektif. Didasarkan pada delapan keyakinan utama:
Dunia sedang bergerak sangat cepat melalui titik-balik sejarah yang amat menentukan. Kita hidup di tengah revolusi yang mengubah cara kita hidup, berkomunikasi, berpikir, dan mencapai kesejahteraan.
Revolusi ini akan menentukan cara kita dan anak-anak kita bekerja, mencari nafkah, dan menikmati hidup secara keseluruhan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, hampir segala hal mungkin dilakukan. Sayangnya, di setiap negara mungkin hanya ada satu dari setiap lima orang yang tau benar cara memanfaatkan gelombang perubahan ini dengan cerdik–bahkan di negara maju sekalipun.
Jika kita tidak mampu mencari alternatif penyelesaian atas persoalan tersebut, 20 persen elit tersebut akan menikmati 60 persen pendapatan nasional, sedang 20 persen yang termiskin hanya mengecap 2 persen. Itulah kondisi yang memastikan terjadinya kemiskinan, kegagalan sekolah, kejahatan, penyalahgunaan obat-obatan, keputusasaan, kekerasan, dan ledakan sosial.
Oleh karena itu, kita membutuhkan revolusi belajar untuk mengimbangi revolusi informasi, agar semua orang dapat menikmati keuntungan bersama dari potensi (sumber daya manusia) yang luar biasa.
Untungnya, revolusi tersebut — yang membantu kita mempelajari segala hal secara lebih cepat dan lebih baik — juga berjalan semakin cepat.
Judul asli : The Learning revolution : to change the way the world learns (The Learning Web, 1999, by Gordon Dryden & Jeannette Vos)