Kamis, 22 November 2012

Tips menjadi guru yang disukai siswa


Siapa yang tidak mau menjadi guru yang disukai siswa. Semua guru sepertinya mengharapkan ini. Tapi tahukah anda bahwa semakin minta disukai siswa semakin jauh kita dari kriteria guru yang layak disukai siswa? jika disukai siswa menjadi tujuan kita sebagai guru tidak ada yang namanya profesionalisme lagi, yang ada hanyalah menuruti apa yang siswa mau dan inginkan, bahkan bila yang diinginkan sudah keluar jalur kegiatan belajar dan mengajar.
Menjadi guru yang disukai bukan perkara mudah tapi juga tidak sulit, saya pribadi pun masih dalam upaya untuk bisa disukai siswa. Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Berikut ini adalah caranya.
  1. Tidak terlalu banyak melaksanakan metode ceramah
  2. Memberikan contoh kepada siswa apa yang ia ingin siswa lakukan. Jika anda sebagai guru berharap siswa anda hormat pada anda, silahkan terlebih dahulu menjaga harga diri siswa anda di kelas.
  3. Jika marah atau kecewa pada siswa, berbicara lah pada mereka dan bukan berteriak.
  4. berbagi senyum tulus pada semua siswa. Siswa yang dicap sebagai anak yang ‘bermasalah’ akan luntur dan akan menyukai anda jika anda berikan senyum pada mereka.
  5. Memotivasi siswa dengan cara memotivasi dan bukan menyindir.
  6. Menggunakan humor pada tempat dan saat yang tepat.
  7. Mudah diajak berteman oleh siswa dan bukan menjadi teman siswa. Mudah diajak berteman artinya anda pihak yang pasif dalam berkomunikasi namun tetap dengan cara yang profesional. Berusaha menjadi teman siswa hanya akan menyulitkan situasi anda dikemudian hari.
  8. Penyabar dan menganggap semua siswa sedang berproses. Hindari meneruskan warisan guru lain dengan melanjutkan cap yang sudah diterima oleh siswa tertentu.

6 indikator pengelolaan kelas yang berhasil


Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.
1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.
1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

12 Cara Menjadi Guru yang Baik


Menjadi guru yang baik saat mengajar bukan soal sifat si guru tersebut tapi soal kemampuan mengatur irama pembelajaran. Guru yang sifatnya baik pun akan cepat marah jika muridnya sering berlaku tidak tertib. Salah satu hal yang membuat siswa tertib adalah kesibukan yang bermakna. Membuat siswa bisa sibuk namun tetap bermakna memang tantangan semua guru. Ada guru yang senang memberi soal sulit pada siswanya dengan harapan siswanya sibuk dan waktu mengajar dia tidak dipusingkan oleh masalah perilaku.
Padahal sebaliknya hal tadi hanya terjadi pada siswa yang perilakunya memang sudah baik, sementara anak-anak yang lain akan cepat bosan dan justru membuat ulah karena merasa gurunya memberi pekerjaan sulit tanpa jalan keluar. Karena pekerjaannya sulit membuat anak -anak yang memang sudah bermasalah pada perilaku akan timbul lagi keinginannya untuk membuat keributan dan ujung-ujungnya guru akan merasa gagal dalam mengajar siswanya di hari itu.
Ada beberapa cara untuk membuat jam pelajaran anda berlalu tanpa terasa baik kita sebagai guru maupun siswa sebagai penikmat cara mengajar dan perencanaan mengajar kita.
  1. rencanakan dalam seminggu perencanaan mengajar anda
  2. selalu update rencana pengajaran anda setelah dan sebelum mengajar
  3. tidur yang cukup setiap hari. Hal ini penting agar suasana hati kita terjaga dan tidak mudah emosi
  4. rencanakan pengajaran anda dalam team, jika tidak mungkin konsultasikan formal dan informal RPP anda pada rekan sesama guru.
  5. masuk kelas lebih awal bisa 3 menit atau 5 menit lebih awal.
  6. pikirkan 3 strategi atau rencana dalam mengajar, dengan demikian anak yang cepat selesai tetap punya kegiatan
  7. saat mengajar sempatkan memotivasi siswa. memotivasi itu bukan memuji karena memotivasi anda perlu mendalami karakter anak yang anda ingin motivasi
  8. tebarkan senyum pada seisi kelas
  9. ucapkan salam dengan semangat saat akan mengajar
  10. berikan soal yang menantang dan bukan sekedar sulit
  11. minta siswa untuk ajarkan siswa lainnya jika ia sudah selesai
  12. kurangi gaya  ‘one man show’ saat mengajar, kurangi semangat untuk menceramahi siswa. Biarkan siswa juga berbicara di kelas, berbagi mengenai strateginya dalam mengerjakan soal yang anda berikan.

Tips mendisiplinkan siswa tanpa harus menghukum


Institusi sekolah erat kaitannya dengan disiplin. Bahkan di jaman tahun 80 an sekolah-sekolah yang dianggap baik terkenal karena peraturan yang ketat dan disiplin yang tinggi.  “Sekolah itu bagus karena disiplin nya kuat sekali, buktinya tiap ada anak yang melanggar peraturan dihukum dengan hukuman yang berat.” Komentar para orang tua siswa di jaman itu.  Demikian lah di jaman itu sekolah yang pandai menghukum siswa nya dengan hukuman berat malah diburu para calon orang tua siswa.
Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah  dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadar an akan perbaikan perilaku.
Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.
Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya, atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Jangan sampai disitu saja, bicarakan hal ini dengan orang tua siswa, karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua.
Dalam mengatasi masalah terlambat masuk sekolah ini saya punya contoh menarik. Tidak jauh dari tempat tinggal saya  ada sebuah sekolah menengah atas yang memilih mengunci pintu gerbangnya setiap jam 7 pagi tepat. Anda bisa bayangkan mereka yang terlambat akan kesulitan untuk masuk karena pintu gerbang sudah terkunci.  Setiap hari akan ada sekitar 10 orang siswa  yang tertahan diluar menjadi tontonan warga sekitar yang lewat di depan sekolah tersebut.  Padahal mereka yang terlambat belum tentu malas, bisa saja karena alasan cuaca atau hal-hal lain yang tidk bisa dihindari.
Alasan pihak sekolah mungkin bisa diterima, tindakan mengunci gerbang diambil atas nama penegakkan disiplin dan membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya datang tepat waktu ke sekolah. Tapi sadarkah pihak sekolah bahwa mengunci siswa di luar bisa mempermalukan harga diri sisw?  Bagaimana bila tetangga atau orang-orang yang mengenali mereka lewat saat mereka terkunci di luar.
Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat, banyak tindakan yang bisa dilakukan, dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka .
Mari kita mengenali apa itu hukuman dan konsekuensi
Hukuman
1.       Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak berdaya. Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Ingat “Power tends to corrupt”
2.       Jenisnya tergantung guru, apabila hati guru sedang senang maka siswa terlambat pun tidak akan dikunci diluar.
3.       Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya  terutama bagi siswa yang sering melanggar peraturan.
4.       Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar.
5.       Sifatnya selalu berupa ancaman
6.       Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju, semua pihak harus setuju. Jadi sifatnya memaksa.
Konsekuensi
1.       Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang telah disepakati.
2.       Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan.
3.       Menghindari memberi cap pada anak, dengan memberi cap jelek akan melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya.
4.       Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat bu guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama 5 menit”. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin, dasar kamu anak tidak tahu peraturan,…. tukang ribut! Sana keluar….!

Jumat, 16 November 2012

Undang undang Aparatur Sipil Negara


Undang-undang baru tentang PNS telah  disahkan oleh  DPR  dengan  nama UU Aparatur Sipil Negara (ASN). Dalam undang undang ini membahas tentang:
1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang bekerja pada instansi dan perwakilan.
2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang.
3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang.
4. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah adalah warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang sebagai Pegawai ASN.
5. Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
6. Sistem Informasi ASN adalah rangkaian informasi dan data mengenai Pegawai ASN yang disusun secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi.
7. Jabatan Eksekutif Senior adalah sekelompok jabatan tertinggi pada instansi dan perwakilan.
8. Aparatur Eksekutif Senior adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Eksekutif Senior melalui seleksi secara nasional yang dilakukan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara dan diangkat oleh Presiden
9. Jabatan Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan administrasi, manajemen kebijakan pemerintahan, dan pembangunan.
10. Pegawai Jabatan Administrasi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Administrasi pada instansi dan perwakilan.
11. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu.
12. Pegawai Jabatan Fungsional adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi dan perwakilan.
13. Pejabat yang Berwenang adalah pejabat karier tertinggi pada instansi dan perwakilan.
14. Instansi adalah instansi pusat dan instansi daerah.
15. Instansi Pusat adalah kementerian, lembaga pemerintah non-kementerian, kesekretariatan lembaga negara, dan kesekretariatan lembaga non-struktural.
16. Instansi Daerah adalah perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah, sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dinas daerah, dan lembaga teknis daerah.
3
17. Perwakilan adalah perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Konsulat Republik Indonesia, Perutusan Tetap Republik Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Perwakilan Republik Indonesia yang bersifat sementara.
18. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pendayagunaan aparatur negara.
19. Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat KASN adalah lembaga negara yang mandiri, bebas dari intervensi politik, dan diberi kewenangan untuk menetapkan regulasi mengenai profesi ASN, mengawasi Instansi dan Perwakilan dalam melaksanakan regulasi, dan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
20. Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disingkat LAN adalah lembaga yang diberi kewenangan berdasarkan Undang-Undang ini.
21. Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disingkat

untuk info terkait dengan undang-undang ini dapat di lihat melalui unduhan di bawah ini

Minggu, 11 November 2012

Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran


Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran


Meskipun para praktisi pendidikan saat ini sangat dipengaruhi oleh Teori Belajar Konstruktivisme (Membangun Makna), ada 4 aspek dalam bidang pendidikan saat ini yang masih sangat berhubungan erat dengan Teori Belajar Behaviorisme, yaitu: (1) perencanaan kurikulum; (2) tujuan pembelajaran; (3) asesmen; dan (4) manajemen perilaku.

Perencanaan Kurikulum
Di bawah ini merupakan langkah-langkah perencanaan kurikulum yang umum dilakukan oleh guru-guru pada beragam level lembaga pendidikan:
  • Mengidentifikasi kebutuhan pada program
  • Menentukan tujuan dan indikator pembelajaran pada program
  • Mendaftar tujuan pembelajaran secara akurat
  • Mengkategorikan tujuan pembelajaran berdasarkan taksonomi Bloom
  • Membagi materi ajar ke dalam unit-unit atau bagian-bagian yang lebih kecil
  • Secara hati-hati mengurutkan unit-unit tersebut di atas
  • Menyediakan banyak kesempatan untuk latihan-latihan untuk memperkuat ikatan stimulus-respon
  • Memastikan bahwa pebelajar memberikan respon (melakukan sesuatu)
  • Mengamati dan mengases perubahan perilaku
  • Memberikan umpan balik (feed back) kepada pebelajar
  • Menguatkan (reinforce) perilaku yang sudah benar dengan penghargaan (reward)
  • Mengevaluasi keefektifan program
  • Memodifikasi dan memperbaiki program

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan tujuan pendidikan berdasarkan perubahan tingkah laku sebagaimana yang tersebut di atas, sangat umum digunakan dalam dunia pendidikan meskipun aplikasinya lebih nampak ketika tingkah laku lebih mudah teramati. Penggunaannya menjadi lebih sulit ketika diaplikasikan pada pemikiran internal (dalam otak) dan proses berpikir internal sesorang. Tujuan pembelajaran adalah sebuah pernyataan eksplisit tentang apa yang akan pebelajar dapat lakukan sebagai hasil dari menyelesaikan suatu kegiatan pembelajaran. Pernyataan tujuan pembelajaran terdiri dari:
  • Aksi, yang diekspresikan dengan kata kerja tingkah laku yang tepat
  • Konteks, yang memerlukan referensi syarat (kondisi) dari tingkah laku
  • Ambang batas, yang merupakan suatu indikasi untuk menunjukkan bahwa suatu tingkah laku dapat diterima / dianggap benar
Tujuan pembelajaran membantu pebelajar pada semua level untuk memahami secara tepat apa yang diharapkan dari mereka dan kegiatan belajar apa yang harus mereka lakukan.

Asesmen
Seringkali dianggap bahwa asesmen yang efektif haruslah tes kinerja tentang tingkah laku yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran pada kondisi (syarat) yang sama dengan kondisi saat mereka belajar / mempelajari tingkah laku tersebut. Contoh, jika tujuan pembelajaran menyatakan bahwa seorang calon tukang kayu akan dapat memasang sebuah daun pintu, maka asesmen haruslah meminta calon tukang kayu untuk memasang daun pintu daripada meminta calon tukang kayu menjelaskan teknik memasang daun pintu dalam ujian tertulis.  

Prinsip-prinsip teori behaviorisme mungkin juga terlihat jelas pada asesmen berdasarkan kriteria (criterion referenced assessment). Saat pebelajar diases dengan asesmen berdasarkan kriteria, dimungkinkan untuk melihat bahwa semua yang dilakukan oleh pebelajar telah memenuhi semua kriteria yang dimaksudkan pada tingkat yang memuaskan. Prinsip-prinsip behaviorisme juga berguna sebagai bagian dari tes formatif, yang merupakan sebuah tes yang dirancang untuk menyediakan feed back (umpan balik) baik untuk pebelajar maupun untuk guru itu sendiri. Formatif asesmen dapat memotivasi pebelajar.

Manajemen Tingkah Laku
Mengubah atau menguatkan tingkah laku pebelajar adalah tujuan pembelajaran kebanyakan program pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Sebagai bagian dari proses manajemen tingkah laku, guru dapat menggunakan teknik operant-conditioning, yang telah diklaim oleh Skinner paling efektif untuk memberikan motivasi belajar (Skinner 1969). Penguatan positif (postive reinforcement) atau penggunaan pujian sebagai pemotivasi merupakan dasar dari pemberian reward kepada pebelajar. Penguatan dapat berupa:
Materi, berupa hadiah atau award
Sosial, seperti perhatian guru, atau pujian
Hal yang berkaitan dengan aktivitas, seperti kesempatan untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan.

Pebelajar mungkin selalu mencoba menghindari tertangkap basah melakukan kegiatan / tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan guru. Penggunaan sanksi atau konsekuensi adalah hukuman yang diperbolehkan karena strategi ini merupakan bagian dari teknik operant-conditioning.

Keterampilan Berpikir Kreatif


Keterampilan Berpikir Kreatif: Beberapa Strategi Pembelajaran

Benjamin Bloom (1956) telah mengembangkan taksonomi tingkatan perilaku intelektual dalam belajar seseorang. Taksonomi ini berisi 3 domain sebagaimana yang telah lumrah diketahui oleh para guru dan pendidik yaitu, kognitif psikomotor, dan afektif. Pada domain kognitif, Bloom telah mengidentifikasi 6 tingkatan yaitu: pengetahuan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Domain kognitif dan keenam tingkatannya yang dikembangkan oleh Bloom ini masih digunakan sampai saat ini.

Berpikir kreatif melibatkan menciptakan sesuatu yang baru atau asli. Ini melibatkan keterampilan yang memiliki fleksibilitas, orisinalitas, kefasihan, elaborasi, curah gagasan (brainstorning), modifikasi, berkhayal, pemikiran asosiatif, daftar atribut, dan berpikir metaforis.. Tujuan dari berpikir kreatif adalah untuk merangsang keingintahuan dan merangsang berpikir divergen.

Berpikir kreatif termasuk ke dalam kategori keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Dan, ketika kita membicarakan tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi maka kita berkonsentrasi pada ketiga tingkat atas Taksonomi Bloom: analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi(C6).

Keterampilan berpikit kreatif ini sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana cara untuk membelajarkan keterampilan berpikir kreatif kepada siswa. Banyak buku yang telah ditulis yang memuat hasil-hasil penelitian dan best practice tentang bagaimana cara mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi ini. Beberapa di antaranya, sebagaimana yang ditulis oleh Michael Michalko, Andy Van Gundy, James Higgins, Dilip Mukerjea dan lainnya, antara lain melalui strategi
  • Pembalikan Masalah  
  • Ajukan Pertanyaan (Problem Reversal)
  • Imajinasi Terapan - Pertanyaan Ringkasan (Applied Imagination -Question Summary)
  • Berpikir Lateral (Lateral Thinking)
  • Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats)
  • Prinsip Diskontinuitas (The Discontinuity Principle)
  • Ceklis / Daftar Periksa
  • Curah Gagasan (Brainstorming)
  • Analogi
  • Daftar atribut 
  • Analisis morfologi
  • Imitasi
  • Peta Pikiran (Mindmapping)
  • Storyboard
  •  Synectics
  • Berpikir Metaporis
  • Teknik Teratai Mekar
  • Dalam Dunia Indra
  • Gunakan gambar (dari Pengalaman Robert McKim di Berpikir Visual
  • Idea Toons (oleh Michael Michalko)
  • Teknik NLP (Neuro-Linguistic Programming) 
  • DO IT! (metode Roger Olsen)
  • Metode LARC
  • Pemecahan Masalah
  • Simplex - sebuah proses dengan tiga tahapan (menemukan masalah, memecahkan masalah, menerapkan pemecahan masalah) dan delapan langkah diskrit direpresentasikan sebagai roda untuk mencerminkan sifat, pemecahan masalah secara sirkuler. Nama lengkapnya adalah proses Simplex Basadur. Delapan langkah yang dimaksud meliputi: menemukan masalah, pencarian fakta, mendefinisikan masalah, menemukan ide, mengevaluasi dan memilih, perencanaan tindakan, mendapatkan penerimaan, dan mengambil tindakan.      
  • Metode TRIZ Semyon D. Savransky
  • Berpikir Fuzzy 
  • Beberapa lebih lanjut contoh teknik kreativitas dan pedoman terkait dengan contoh-contoh historis.
  • Terobosan Berpikir - Terdiri dari 7 langkah solusi keunikan, tujuan setelah berikutnya, sistem, pengumpulan informasi yang diperlukan, desain , dan perbaikan.