Kamis, 06 Oktober 2011

Kebiasaan

KEBIASAAN Tidak ada orang yang terlahir dengan rasa minder. Tidak ada orang yang terlahir dengan kebiasaan menggigit kuku, mengupil, atau kecenderungan untuk menunda. Itu semua adalah tingkah laku yang dipelajari, dan begitu sering kita praktekkan, sehingga menjadi bagian dari sifat alami kita. Karena semua itu hanyalah bagian dari, dan bukan sifat alami kita, berarti dengan menghilangkannya, semakin mendekatkan kita dengan jati diri kita yang sesungguhnya. Karena telah mempraktekkannya begitu lama dan dikondisikan untuk memilikinya, kita jadi merasa bahwa kebiasaan-kebiasaan itu menjadi bagian dari diri kita, yang membentuk jati diri kita. Padahal sebenarnya bukan. Sama seperti skill-skill penting lain yang kita pelajari, misalnya berbicara, makan, dan berjalan, kebiasaan adalah tingkah laku yang kita pelajari dari melihat dan meniru orang lain, karena sepertinya kebiasaan-kebiasaan itu membuat mereka tampak hebat atau merasa senang. Motivasi untuk mempelajarinya juga sama, yaitu karena kita percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut akan membuat kita bahagia. Jadi, kita mempraktekkannya, karena percaya bahwa itu bukan cuma akan membuat kita merasa, tapi juga menjadi orang yang lebih baik, dan mewujudkan apa yang kita anggap sebagai orang yang kita cita-citakan. Kita semua percaya bahwa dibalik semua tingkah laku itu ada niat awal yang positif. Otak kita hanya akan menyarankan apa yang dianggap sebagai cara terbaik dan paling efektif untuk membuat kita merasa lebih baik. Itu dipelajarinya dari tingkah laku kita dimasa lalu, dari apa yang membuat kita merasa lebih baik, atau lebih nyaman. Karena biasanya kita belajar dengan sangat cepat, maka kebiasaan akan terbentuk dengan sangat cepat. Merokok, misalnya. Kita mengawasi orang yang merokok, dan karena terlihat cool, kita menganggapnya sebagai cara yang benar dan bermanfaat untuk ditiru. Lalu kita memutuskan untuk mencobanya, meski awalnya sulit dan menyakitkan. Menurut anda, berapa banyak orang yang menikmati rokok pertama mereka? Namun mereka tetap menjalaninya agar bisa seperti orang lain. Hubungan antara merokok dengan tampak cool itu adalah sesuatu yang dipelajari dan terekam di otak kita, sehingga kita menganggap merokok itu sama dengan cool. Kebiasaan itu tidak muncul begitu saja. Otak kita yang menyarankannya, menurut apa yang dianggapnya terbaik, atau apa yang dulu mungkin pernah berhasil menghilangkan rasa tidak nyaman atau sepertinya menarik. Jadi, setiap kali merasa tidak nyaman, itu akan memicu otak untuk mengatasinya dengan menyarankan apa yang dulu pernah membuat kita merasa lebih baik, meski cara itu sudah tidak lagi efektif. Di tahun 1940-an, B F Skinner, seorang psycholog behavioural membangun dua buah maze (jaringan jalan yang rumit). Satu untuk tikus dan satunya lagi untuk para siswa. Sebagai hadiah untuk menemukan bagian tengah (center), pada tempat pertama (untuk tikus) dia menaruh coklat, dan ditempat kedua dia menaruh $10. Para tikus dan siswa berlari berputar maze sampai mereka menemukan hadiah. Saat coklat disingkirkan dari tempat pertama, tikus tidak lagi menunjukkan ketertarikannya untuk menemukan bagian center dari maze. Namun berbeda dengan para siswa, mereka akan terus menelusuri maze untuk mencari bagian tengah, meski mereka tahu bahwa sudah tidak ada lagi uang yang bisa mereka temukan disana. Itu yang disebut dengan kebiasaan. Begitu terbentuk, akan terus dilakukan, meski sudah tidak lagi alasan untuk melakukannya. Pete menulis: Saat masih remaja, aku punya seekor anjing, dan terbiasa melihatnya disekitar rumah. Aku selalu melihatnya, dan dia akan datang setiap kali aku memanggil namanya. Meski anjing itu sudah mati 10 tahun yang lalu, namun setiap kali aku mengunjungi rumah orang tua ku, aku masih berharap dia akan berada di sana, berlari untuk menyambut ku. Ini menunjukkan tingkah laku yang dikondisikan. Polanya mirip dengan cara yang telah membentuk dan mempertahankan berbagai kebiasaan. Meski kita coba untuk menghentikannya, namun otak kita tetap menyarankannya. Karena kita telah banyak menghabiskan waktu untuk melakukannya, namun otak kita tetap saja membujuk kita bahwa tindakan itulah yang terbaik. Tapi bagaimana dengan tingkah laku?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar