Senin, 05 September 2011

Jiwa dan Kedudukannya Dalam Pndangan Islam

JIWA DAN KEDUDUKANNYA DALAM PANDANGAN ISLAM



Oleh : Tajudin





Pendahuluan

Setiap ciptaan Allah memiliki ciri masing-masing dari yang bersifat sederhana hingga yang bertingkat tinggi. Dalam kitab Tafsir al-Maraghi Allah menciptakan makhlukNya terbagai bertingkat-tingkat. Ada yang bersifat Jamadi, Nabati, Hayawani dan yang terkahir bersifat Inasni.

Ciptaan yang berbentuk Jamadi adalah bebatuan. Sifat-sifat batu diam, ia tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa kejadian yang lain. Bebatuan akan bergerak apabila ada faktor lain yang dominan seperti bencana alam atau ulah manusia yang menginginkan adanya perubahan. Nabati adalah tetumbuhan, ia dapat bergerak, dari biji-bijian berubah menjadi tunas, berubah menjadi berdaun, memiliki batang tangkai, ranting dan lain sebagainya. Hayawani ia dapat bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, bahkan ia mampu berpindah-pindah dari pulau ke pulau yang lain. Insani tidak hanya dapat berubah, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Insani memiliki persaan rasa kasih sayang dengan sesama, lebih dari ia mempunyai perhatian terhadap makhluk yang lain. Dalam firman Allah manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan yang lainnya. Karena ia memiliki akal pikiran yang mampu merubah keadaan alam raya ini.

Manusia diciptakan oleh Allah memiliki daya sebagai berikut:

1. daya kemampuan, sehingga Allah menyerahkan kekuasaan ini pengelolaan alam raya ini kepada manusia. Allah menyebut manusia sebagai khalifah
2. manusia memiliki Iradah keinginan-keinginan. Manusia diciptakan oleh Allah dalam mengarungi kehidupan ini mempunyai pilihan-pilihan. Manusia dari zaman nabi Adam a.s. hingga nabi Muhammad s.a.w., berneka dalam mencari nafkah, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbeda dengan makhluk yang lain, monoton tidak mengalami perubahan
3. manusia memperoleh ilmu pngetahuan langsung dari Allah dalam firman Allah yang artinya: ... Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam a.s. semuanya ... (al-Baqarah 31)

Semua itu karena manusia memiliki nafsu, yang sering diartikan jiwa. Nafsu laksana api, tidak boleh dipadamkan, dengan kata lain ditiadakan, akan tetapi ia harus diatur untuk menodorong dalam mengadakan kegiatan demi terwujudnya cita-cita..

Namun demikian nafsu tidak selalu berada dalam jalan positif. Nafsu bisa jadi berada dalam jalan yang positif seperti yang telah digambarkan di atas, ia juga bisa berada pada pada posisi yang mengenaskan dan bahkan lebih hina dari yang tidak mempunyai akal pikiran. Dalam firman Allah disebutkan yang artinya: Maka pernakah kamu lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya (al-Jasiyah 22)

Dari uraian terebut dapat diambil kesimpulan begitu peliknya nafsu, suatu waktu berada di jalan yang diridhai, dan tidak menutup kemungkinan dimurkai oleh Allah. Dengan demikian penulis tertarik ingin mengetahui bagaimana nafsu dan kedudukannya dalam ajaran Islam?



Pengertian Nafsu

Nafsu ditinjau dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab, Nafsun (kata mufrad) jama’nya, anfus atau Nufusun dapat diartikkan ruh, nyawa, tubuh dari seseorang, darah, niat, orang dan kehendak[2]. Dalam bahasa Inggris Psycho diartikan jiwa atau mental[3] jiwa menurut bahasa Indonesia adalah: roh manusia yang ada di tubuh dan menyebabkan hidup, atau seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran angan-angan dan sebagainya[4]

Dalam tinjauan kebahasaan jiwa dalam bahasa Arab mengandung arti lebih luas dibandingkan dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Arab ruh sebagai tanda adanya kehidupan, atau nyawa. Atau diartikan tubuh/jasad manusia, atau keinginan-keinginan manusia. Dalam bahasa Inggris hanya mengandung arti jiwa dan mental, dalam arti lain sikap atau keadaan seseorang.

Istilah nafsu sering diartikan pada hal yang serba negatif yang sesungguhnya tidak selamanya nafsu berarti buruk. Nafsu, dapat juga diartikan jiwa seperti dalam tinjauan kedua bahasa tersebut di atas. Jiwa dalam pandangan filsafat dapat digambarkan ”tidak dapat menentang dorongan naluri, sehingga ia tetap pada suasana naluri, sehingga orang terhindarlah dari rasa kurang harga diri yang sangat menyedihkan. Ia tahu bagaimana seharusnya, tetapi tidak bisa melaksanakannya.”[5] jiwa sering diidentikan dengan ide, karena ide itu kekal maka jiwapun kekal. Setelah jasad seseorang meninggal, nafsulah yang akan diadili untuk sampai kepada pulau-pulau bahagia[6]. Klasifikasi yang tepat dalam tinjauan filsafat adalah sebagai berikut:

a. teori yang memandang jiwa sebagai subtansi yang berjenis khusus, yang dilawankan misalnya dengan subtansi material

b. teori-teori yang memandang jiwa sebagai jenis kemampuan artinya semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan-kegiatan

c. teori-teori yang memandang jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tampak pada organisme-organisme hidup

d. teori-teori yang menumbuhkan penegertian jiwa dengan pengertian tingkah laku[7]

Pada tinjauan filsafat jiwa bukan sekedar materi atau sesuatu yang ada walaupun dalam bentuk konsepsi, dalam filsafat sesuatu yang ada tidak hanya yang dapat disaksikan oleh panca indera, tetapi segala sesuatu yang ada baik yang dijangkau oleh panca indera maupun ada dalam angan-angan. Nafs dapat dilihat gejala-gejalanya seperti tanda-tanda kehidupan dan lain-lain Pandangan ini menunjukan bahwa jiwa akan dimintai pertanggung jawaban nanti pada pulau-pulau bahagia. Jiwa eksis di materi. Apabila ia pada manusia berarti ia berada di balik kehidupan manusia itu sendiri. Hal ini dapat ditinjau pada fenomena diri manusia itu sendiri, seperti kemampuan

Jiwa pada manusia sebagai tanda adanya kehidupan, oleh karena itu jiwa dapat diartikan roh. Roh itu juga dapat diartikan semangat, maka muncul istilah roh lemah atau kuat. Dengan demikian roh atau jiwa diartikan:

a. Kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia

b. Serta menyebabkan manusia dapat berfikir, berperasaan dan berkehendak

c. Lagi pula yang menyebabkan manusia mengerti atau insyaf akan segala geraknya[8]

Pada tinjauan umum jiwa dapat disejajarkan dengan roh. Roh diartikan sebagai semanagat atau ciri khas sesuatu yang hidup. Dapat diartikan sebagai faktor adanya kehidupan dan dapat diartikan sebagai kesadaran segala apa yang telah, sedang dan akan diperbuat

Pada sisi lain dalam pembagian jiwa, jiwa dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: bagian rasional terdapat pada kepala, bagian keberanian dalam dada dan bagian terakhir bagian keinginan yang berada di bawah sekat rongga badan[9]

Pada pembagian posisi ini, sesuai dengan asal kejadian manusia. Apabila ia mengikuti bagian rasio berarti mencoba memposisikan dirinya pada tempat yang tertinggi. Apabila ia memposisikan dada berarti ia berada dalam pertengahan, keberanian berada diantara pengecut dan nekat, arti pertengahan di sini adalah penuh dengan pertanggung jawaban dan seterusnya



Nafsu dan Ruh dalam Ajaran Islam

Seperti apa telah dipaparkan di atas, nafsu sering berkonotasi buruk, seperti yang diungkapkan oleh kalangan sufi ”nafs adalah sesuatu yang tercela dalam sifat-sifat hamba, akhlak dan perbuatannya”.[10] Sedangkan Ruh adalah kehidupan, kenyataan yang ada dalam hati bernuansa lembut. Ia dapat naik ketika ia dalam keadaan tidur dan akan kembali ketika manusia itu terbangun[11]

Sebelum membahas tentang asal-mula nafs dan ruh, penulis menyikapi pendapat kalangan sufi yang mengartikan nafs serba negatif, hal ini kurang tepat sebab dalam ayat-ayat al-Qur’an kata nafs tidak hanya yang berhubungan dengan sesuatu yang serba ma’shiyat kepada Allah seperti ketika Allah memanggil nafsu yang tenang dengan panggilan: Ya ayyatuhannafsul muthma’innah irji’i ila Rabbiki radhiyatan mardiyyah fadkhuli fi’ibadi, wadkhuli jannaty (hai jiwa yang tenang kembalilah engkau kepada Tuhanmu ...) Untuk kembali kepada Allah adalah mereka yang telah suci, mereka yang telah diridhai berarti telah diampuni segala dosa-dosanya, dan iapun telah dikelompokan dalam hamba Allah berarti pengankuan, yang mengandung arti diangkat kekudukannya, begitu juga mamsuk dalam sorga berarti tidak berdosa lagi.

Setiap ciptaan Allah memiliki asalnya masing-masing. Manusia berasal dari tanah. Malaikat diciptakan oleh Allah berasal dari cahaya dan syaithan diciptakan berasal dari api Nafs digambarkan sebagi ciptaan Allah yang paling egois, egois memiliki kesamaan dengan perilaku syaithan. Maka kejadian nafsu dapat disimpulkan berasal dari api.

Berbeda dengan keberadaan ruh. Digambarkan oleh Allah ketika meniupkan ruhNya kepada manusia dengan pernyataan yang artinya: ”dan saya tiupkan ruh bagi manusia dariKu”. Ruh tidak mungkin dapat diketahui oleh manusia secara detail. Hal ini telah Allah nyatakan dalam firmanNya yang artinya: mereka bertanya kepadamu tentang ruh dijawab oleh Allah, katakanlah bahwa ruh itu urusan Allah. Dan tidak Aku beri ilmu kecuali kecuali hanya sedikit artinya serba terbatas

Pembagian nafsu

Nafsu yang terdapat dalam diri manusia terdiri dari:

1. Nafsu Ammaroh, yaitu jiwa yang belum mampu membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan tercela. Ia sering berkhianat dan iapun harus menerima dengan apa yang telah diperbuat dalam firman Allah yang berbunyi: Innan nafsa la’ammarotun bissu’
2. Nafsu laawwamah, adalah jiwa apabila telah melaksanakan suatu perbuatan dosa, ia menyesal, ia tidak berani berbuat secara terang-terangan
3. Nafsu Musawalah; adalah jiwa yang telah mampu membedakan, namun ia tetap melaksanakan perbuatan baik dan buruk
4. Nafsu Muthma’inah adalah: jiwa yang telah memperoleh tuntunan dan pemelihraan yang baik
5. Nafsu Mulhamah jiwa yang telah memperoleh ilham dari Allah, ia memperoleh ilmu dihiasi akhlak mahmudah dan menjadi sumber sabar, syukur, tabah dan ulet
6. Nafsu Radhiyah adalah jiwa yang ridha memperoleh kesejahteraan, mensyukuri nikmat Allah dan qana’ah dengan apa yang telah diperoleh
7. Nafsu Mardhiyah adalah jiwa yang diridhai dalam dirinya selalu berzikir, ikhlas dan memperoleh kemuliaan
8. Nafsu Kamilah adalah jiwa yang sempurna[12]

Secara garis besarnya bahwa nafsu dibagi menjadi dua yaitu: Nafsu yang taat melaksanakan perintah-perintah Allah meninggalkan semua larangan-laranganNya. Kedua adalah nafsu yang cenderung melawan ketentuan-ketentuan Allah, keinginan-kkeinginannya selalu yang berlawanan

Nafsu Ammarah adalah bius akal, apabila tentara akal lemah maka tentara syaitan menyerang dan apabila manusia sedang marah syetan mempermainkannya laksana anak kecil mempermainkan bola[13]

Untuk mewujudkan jiwa yang baqa, dan berada pada tempat yang mulia harus mampu menjaga kebersihannya seperti dalam firman Allah dinyatakan Qad aflaha man tazakka sungguh memperoleh kemenangan orang-orang yang selalu menjaga kebersihannya. Untuk menjaga agar jiwa tetap bersih perlu adanya latihan. Setidaknya kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah pada semua umat manusia seperti shalat lima waktu, zakat bagi yang mampu, puasa pada bulan ramadhan dan pergi menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Dalam menjaga nafs agar tetap pada fitrahnya secara terperinci sebagai berikut:

1. Mengendalikan lidah, lebih baik diam dari pada berkata-kata yang tidak baik. Pada mulut terdapat keutamaan dan bahaya. Keutamaan misal dengan berbicara memperololeh keuntungan, seperti: memberi nasihat kepada yang lebih muda, memberi peringatan kepada sesama dan lain-lain. Bahaya dengan mulut ia akan menuai kemarahan orang disekitar seperti berbicara berlebihan, melibatkan diri dalam perkara yang batil, menggunjing dan lain-lain. Ada perumpamaan terpelesetnya kaki tidak akan lebih berbahaya dibandingkan dengan terpelesetnya mulut akan menjadikan kematian

2. Adab berbagai hubungan. Hubungan dengan keluarga, hubungan dengan tetangga dan hubungan dengan sasama muslim. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa untuk menjaga keselamatan diutamakan dalam pada diri sendiri, keluarganya dari api neraka, kedua siapa yang ingin masuk sorga maka hormatilah tetangganya dan mewujudkan adanya persaudaraan

3. Hubungan dengan beragam manusia. Islam tidak hanya mengatur intern ummat bahkan antar umat beragama. Dalam urusan mu’amalah tidak ada batas selagi tidak ada larangan kecuali dalam masalah ritual, Islam tegas-tegas tidak ada kerja sama. Sebagai muslim tidak dipekenankan mengikuti tata peribadatan non Islam dan tidak diperbolehkan mengganggu mereka



Kesimpulan

Dari uraian dai atas dapat disimpulkan bahwa antara Nafsu dan Ruh seolah sama seperti nafsu dan ruh sebagai tanda kehidupan, ia juga yang akan mempertanggungjawabkan segala apa yang telah diperbuat nanti di akhirat. Nafs dan ruh pun memiliki kekekalan dengan kata lain baqa.

Namun apabila diteliti secara cermat antara ruh dan nafs mempunyai perbedaan asal-mula kedua. Nafs adalah ciptaan Allah sedangkan ruh merupakan bagian dari Allah. Pada ruh Allah menyatakan ia adalah bagian dariKu sedangkan nafs dipanggil oleh Allah kembalilah engkau dan masuklah dalam sorgaKu.

Allah memnciptakan segala sesuatu mengandung manfaat bagi manusia sekecil apapun apabila manusia mampu memahaminya. Lebih dari itu nafs melekat pada diri manusia. Tidak diperbolehkan dihilang dari diri manusia, ia harus tetap eksis keberadaannya. Nafs laksana api bagi kehidupan alam raya ini, bagi manusia sebagai motor penggerak dalam memenuhi kebutuhan manusia





DAFTAR PUSTAKA



An-Naisabury, Abul Qasim al-Qusyairy, Risalah Qusyairiyah, Risalah Gusti, Surabaya, 1996

Bertens K., Sejarah Fiksafat Yunani, Kanisius, 1999.,

Chaplin, J.P.., Kamus Lengkap Psikologi, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2006

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1990

Hawwa, Sa’id., Mensucikan Jiwa, Robban Press, Jakarta, 2001

Kattsoff. Louis, O, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992

Langeveld.MJ, Menuju ke Pemikirian Filsafat, Pembangunan cet. ke I

Umary, Barmei , Materi Akhlak, Ramadhani, Solo, 1991

Walgito. Bimo, Pengantar Psikologi Umum, cet ke III., Andi Offset Yogyakarta, 1993

Yunus Mahmud, Kamus Bahasa Arab Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1989.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar